RAMPUNG: Inilah area perairan di wilayah Jembatan Cilosari, kelurahan Kemijen yang pembangunan untuk jalur gandanya sudah rampung, Rabu (8/8) sudah tidak ada pengerjaan lagi. (suaramerdeka.com/Bambang Isti)
SEMARANG, suaramerdeka.com - Memanfaatkan rekayasa teknis konstruksi matras bambu untuk pengerasan tanah temuan prof Dr Ir Masrur Irsyam, Phd, pengerjaan double track di wilayah Kalibanger, Kelurahan Kemijen, Semarang kini sudah rampung.
Sejak dua bulan lalu, di wilayah perairan yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Stasiun Tawang ini mulai dikerjakan penggurukan tanah untuk perlintasan rel ganda Semarang-Bojonegoro.
Karena sifat tanahnya yang lembek, maka digunakan konstruksi matras bambu, yakni menempatkan berupa tiang pancang dan anyaman bambu 5 lapis pada setiap interval 1 meter.
"Penggunaan konstruksi di Semarang terkait double track ini adalah yang ke tiga kalinya setelah di Kalimantan dan Sulawesi, Di Kalimantan malah berada di tengah pantai," kata Tundjung Inderawan, Dirjen Perkeretaapian, Direktorat Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan, Rabu (8/8) di Semarang.
Menurut Tunjung, jalur Semarang-Bojonegoro ini rata-rata didominasi dengan lahan yang jauh dari pemukiman penduduk, disamping banyak tanah yang labil dan lembek. "Sehingga kami akan lebih banyak membangun jalan kerja di lahan milik penduduk dengan melibatkan banyak kontraktor. Jika sudah selesai konsekuensinya harus mengembalikan seperti kondisi," kata Tunjung.
Menurut Tundjung Inderawan, semua pengerjaan tetkait rel ganda akan diberhentikan sementara H-7 lebaran dan akan kembali dikerjakan H+7. "Sehingga akan lebih memperlancar transportasi KA untuk arus mudik dan balik," kata dia.
Kunjungan Dirjen Perkeretaapian di Stasiun Semarang Tawang sampai ke Stasiun Alas Tuwa ini didampingi Arief Wahyudi, kepala PT KAI Daop 4 Semarang, Sapto Hartoyo, Manajer Humasda dan staf Ditjen Perkeretaapian.
( Bambang Isti / CN32 / JBSM )