Senin, 03 Oktober 2016

PENANGANAN EXPANSIVE SOIL MENGGUNAKAN GEOMEMBRANE

EXPANSIVE SOIL...


 
Expansive Soil atau Tanah kembang susut didefinisikan sebagai tanah yang volumenya berubah terhadap pengaruh siklus pengerigan-pembasahan dan pengisapan (suction) yang berhubungan dengan permasalahan dan keruntuhan yang telah diteliti dalam bidang konstruksi seperti yang dilaporkan dari banyak sumber di dunia.
banyak konstruksi yang berdiri diatas tanah jenis ini yang rusak, terutama pada jalan, biasanya setelah selesai konstruksi dan setelah mengalami perubahan musim dari musim hujan ke musim kemarau maka muka jalan akan bergelombang dan bahkan pecah. pada bangunan rumah juga biasanya keliahatan pada lantai - lantai yang bergelombang.

beberapa cara telah digunakan untuk penanganan pada tanah expansive, antara lain : 

- penggantian material : metode ini efektif apabila lapisan tanah expansif tersebut dangkal
- stabilisasi dengan kapur : cara ini juga efektif apabila lapisan tanah expansif tersebut dangkal dan material kapur yang tersedia mudah didapatkan, namun pada pelaksanaannya cukup rumit dan dibutuhkan pengalaman tinggi karena kesalahan penempatan / campuran kapur bisa fatal
- stabilisasi dengan semen : cara ini juga efektif, namun membutuhkan biaya tinggi

selain cara diatas, hal penting yang perlu dilakukan adalah manajemen air, membuat drainase yang baik, namun kerap kali hal itu tidak cukup, untuk itu diperlukan tambahan material yaitu GEOMEMBRANE, geomembrane ini berfungsi untuk menghalangi tanah tersebut bersentuhan dengan air langsung dan juga menghalangi penguapan akibat musim kemarau, sehingga kestabilan tanah kembang susut bisa dijaga sepanjang tahun

 penggunaan Geomembrane untuk penanggulangan tanah kembang susut pertama kali dilakukan di Indonesia pada tahun 1991 di jalan Link 005 Caruban - Ngawi, Jawa Timur

Senin, 18 Juli 2016

Konsolidasi Tanah

Konsolidasi Tanah

Suatu proses pemampatan tanah, dan berkurangnya volume pori dalam tanah. hasilnya daya dukung tanah bertambah. namun, sebelum proses ini berhenti / selesai, maka tidak boleh terdapat bangunan di atasnya.
secara normal, proses konsolidasi ini bisa memakan waktu tahunan bahkan puluhan tahun, tentunya hal ini sangat tidak menguntungkan dihitung dari segi waktu. tetapi jika dipaksa dengan didirikan bangunan diatasnya, maka akan menjadi ancaman dimana akan terjadi keruntuhan bangunan akibat dari proses konsolidasi.
contohnya yang jelas bisa dilihat adalah menara Pisa di Itali



menara pisa
menurut banyak sumber, kemiringan menara Pisa ini diakibatkan oleh tanah yang tidak stabil.
bersyukurlah karena menara ini dibangun secara bertahap dan sempat beberapa kali perbaikan mengikuti kondisi bangunan, sehingga tidak runtuh
tentu saja kita tidak ingin hal ini terjadi pada bangunan - bangunan yang vital seperti Bandara, Rumah Sakit, Gedung bertingkat dan banyak lagi.
lalu bagaimana solusinya ? Mempercepat Konsolidasi sebelum membuat bangunan di atasnya, sehingga tidak lagi terjadi penurunan tanah setelah bangunan berdiri.
caranya ? ada beberapa cara, tergantung dari jenis tanah yang akan di konsolidasi :
untuk tanah yang berpasir, biasa digunakan cara dynamis, bisa dengan cara menjatuhkan beban berat dari ketinggian tertentu
untuk tanah lunak bisa menggunakan Stone Column, mengganti material tanah lunak. namun saya sangat menyarankan menggunakan system PVD (Prevabricated Vertika Drain) dikarenakan dihitung terhadap efisiensi harga dan kecepatan dalam tercapainya konsolidasi bisa lebih cepat dibandingkan beberapa cara lain.
bagaimana cara memasang PVD, silahkan melihat video dari PT. Teknindo Geosistem Unggul berikut ini, lokasi di Bandara Tarakan :

Bagaimanakah sistem kerjanya ? secara teori, saat tanah dibebani diatasnya, maka air pori yang berada pada tekanan tinggi akan mencari pori bertekanan rendah dengan jarak lintasan terdekat, fungsi PVD tersebut adalah menyiapkan tekanan rendah pada tubuhnya sendiri, yang kemudian akan mengalirkan keatas karena tekanan air dibawah lebih tinggi daripada tekanan diatas, dengan pemasangan PVD dengan jarak yang dekat, jarak lintasan airpun menjadi lebih pendek, namun perlu diperhatikan juga, jarak PVD tidak boleh terlalu dekat karena akan merusak kondisi tanah saat pemancangan.
dengan PVD ini kecepatan konsolidasi tanah dapat dipercepat, yang mana biasanya butuh 10 tahun, maka dengan PVD bisa dipercepat menjadi kurang dari 1 tahun dengan besar pembebanan yang sama.






Selasa, 12 Juli 2016

KERUSAKAN JALAN AKIBAT PENURUNAN TANAH






JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah perlu mewaspadai penurunan tanah di Jakarta Utara yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kerusakan sejumlah infrastruktur. Badan Jalan RE Martadinata yang ambles sepanjang 103 meter merupakan peringatan dini akan ancaman yang lebih besar.
Direktur Eksekutif Indonesia Water Institute Firdaus Ali, Sabtu (18/9/2010) di Jakarta Pusat, mengatakan, amblesnya badan jalan beton itu didahului penurunan permukaan tanah. Faktor abrasi air laut mempercepat amblesnya badan jalan itu.
Terdeteksinya penurunan 2,6 sentimeter permukaan badan jalan yang masih utuh, di samping badan jalan yang ambles, merupakan indikasi penurunan tanah. Daya dukung tanah bagian dalam berkurang sehingga memicu penurunan permukaan tanah penyangga badan jalan.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Jawali Marbun mengatakan, pihaknya meneliti apakah ada rongga di tanah di bawah jalan. Namun, ada indikasi kekuatan badan jalan yang utuh labil dan rawan ambles.
”Masyarakat diminta tidak mendekati badan jalan yang ambles. Badan jalan yang utuh rawan ambles juga,” kata Jawali.
Menurut Firdaus Ali, pada tahap awal, penurunan permukaan tanah sangat berpotensi merusak bangunan infrastruktur, seperti jalan dan saluran air. Bangunan infrastruktur biasanya tidak memiliki fondasi yang kuat sehingga rawan ambles jika permukaan tanahnya turun cepat.
Kerusakan akan lebih cepat terjadi jika dipicu faktor-faktor lain, seperti gerusan air dan beban berlebihan dari atas. Kerusakan di badan jalan lebih mudah terjadi karena dilewati kendaraan berat.
Dosen dan peneliti pada Program Studi Meteorologi Institut Teknologi Bandung, Armi Susandi, mengatakan, tanah ambles di wilayah Jakarta bagian utara berpotensi terus berlanjut secara tiba-tiba, terutama ke lokasi-lokasi rawan di wilayah lain. Kenaikan permukaan air laut dan intrusi air laut menyumbang peranan penting dalam melapukkan tanah sehingga labil dan mudah ambles.
Menurut dia, wilayah-wilayah rawan meliputi pelabuhan, bandar udara, dan permukiman padat disertai gedung-gedung bertingkat. Proses pelapukan tanah disebabkan sifat kimiawi air laut yang mengandung kadar garam atau salinitas tinggi.
Armi merekomendasikan langkah darurat selain upaya menghentikan eksploitasi air tanah, yakni melindungi pantai dengan struktur dinding beton. Namun, upaya itu masih menghadapi kendala peluang intrusi air laut ke darat melalui saluran atau muara sungai di Jakarta.
”Lindungi tanah dengan cara segera menghentikan eksploitasi air tanah, terutama di wilayah Jakarta bagian utara,” katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan peraturan daerah yang membatasi penyedotan air tanah dalam. Penyedot air tanah dalam wajib membayar sangat mahal. Namun, aturan baru itu belum efektif karena lemahnya pengawasan.
Dipertanyakan
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, M Sanusi, mempertanyakan kualitas badan Jalan RE Martadinata yang dibangun rekanan Kementerian PU itu.
Menurut dia, faktor abrasi air dan penurunan permukaan tanah adalah kondisi-kondisi yang dapat diperhitungkan dan diantisipasi sehingga alasan jalan yang baru selesai dibangun dua bulan lalu itu ambles tidak dapat diterima begitu saja.
Apalagi, tidak terlihat adanya ikatan besi yang menjadi tulang dari jalan beton. Padahal, di setiap bangunan beton yang patah akan terlihat susunan besi yang menjadi pengikat struktur beton secara keseluruhan.
”Jangan menyalahkan alam atas amblesnya jalan itu. Saya menduga, faktor kelalaian dalam desain atau proses pembangunan merupakan penyebab amblesnya Jalan RE Martadinata. Paling tidak, ada kelalaian dalam mengantisipasi risiko,” kata Sanusi yang pernah berprofesi sebagai kontraktor.
Sanusi meminta Kementerian PU mengevaluasi semua infrastruktur yang dibangun di Jakarta agar jangan mengalami kerusakan serupa.
Dalam seminggu terakhir, ada tiga infrastruktur yang dibangun Kementerian PU rusak parah. Ketiganya adalah jebolnya tanggul sementara Kali Pesanggrahan di Bintaro, amblesnya Jalan RE Martadinata, dan amblesnya turap (sheet pile) di Kanal Banjir Barat.
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin mengatakan, kerusakan infrastruktur di Ibu Kota akan mengganggu kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Gangguan itu tidak hanya berdampak di Jakarta, tetapi juga seluruh Indonesia karena Jakarta adalah pusat pemerintahan.
”Sebagai gambaran, 70 persen perputaran uang di Indonesia berlangsung di Jakarta. Jika jalan-jalan utama rusak dan ekonomi di Jakarta terganggu, pengaruhnya akan dirasakan ke wilayah-wilayah lain,” kata Nurdin.
Nurdin meminta Kementerian PU meningkatkan standar kualitas infrastruktur yang dibangun di DKI Jakarta. Pengawasan dan pemeliharaan infrastruktur yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat juga wajib ditingkatkan demi mencegah kerusakan dan menghindari kejadian lebih parah. (ECA/NAW)

sumber : Kompas.com

Jumat, 24 Juni 2016

Blogging di Android selues komputer mengatur letak foto dengan aplikasi Blogpost

selama seminggu ini saya mencari cari cara blogging dari tablet android saya, beberapa software saya coba, tapi saya tidak puas karena dalam pengaturan foto tidak menyenangkan, entah saya yang tidak bisa atau memang fotonya slalu dibagian atas, phuzink deh.... namun saya yakin pasti ada para master yang jauh lebih handal dalam bidang ini...

namun hari ini saya dapt cara sendiri. yaitu melalui 4 tahap :
1. Persiapan, tentu saja anda harus mempunyai akun blog, dalam hal ini saya pakai blogspot punya google, kemudian daftarkan email google anda ke Picasa, Filckr dan dropbox sebagai penyimpan media anda secara online

2. download aplikasi Blogpost dan Picasa Tool di play.google.com


berurutan : icon, Blogpost dan Picasa


3. siapkan foto yang akan di tampilkan di blog anda, terlebih dulu apload foto foto tersebut ke picasa atau flikr

4. buka blog anda dengan aplikasi Blogpost, daftarkan album picasa anda dalam aplikasi blogpost, dan setiap kali anda ingin menempelkan foto, ambil lah foto dari album anda di blogpost, dengan begitu aplikasi blogpost tidak akan kesulitan dalam mengupload postingan anda


jadi apabila anda ingin memposting blog layaknya di komputer ikutilah langkah tersebut

semoga berhasil.

posting ini saya buat dan dikirim melalui tablet android saya

Rabu, 15 Juni 2016

Beton Dengan Kekutan 200 – 250 N/mm² (MPa)

Konstruksi Hybrid Jembatan Gartnerplatz

 

Bild_0010
Jembatan Gartnerplatz di Kassel-Jerman merupakan aplikasi Ultra High Performance Concrete (UHPC) hasil penelitian dan pengembangan selama satu dasawarsa dibidang UHPC di University of Kassel. Research grant tahun 2008 dari Konrad Adenauer Foundation (Jerman) yang berhasil diperoleh penulis, mengantarkan penulis untuk mendapatkan kesempatan melakukan penelitian dibidang UHPC di University of Kassel. Penulis bekerja sebagai peneliti tamu di Institute of Structural Engineering dengan Prof. Dr.-Ing, E. Fehling sebagai direktur bidang struktur beton.
Salah satu milestone setelah 10 tahun penelitian dan pengembangan dibidang UHPC adalah digunakannya UHPC pada jembatan pejalan kaki Gärtnerplatz di Kassel yang melintasi sungai Fulda sepanjang 133 m. Pilar jembatan dibagi dalam 6 bentang : 19,2 – 24,0 – 21,0 – 36,0 – 21,0 – 12,0 m dengan lebar jembatan 5,0 m. Jembatan Gärtnerplatz merupakan jembatan yang pertama kali nya di Jerman diijinkan dibangun dengan menggunakan UHPC, dan selesai dibangun pada bulan Juli 2007. Jerman termasuk negara yang belum memasukkan UHPC dalam standard perencanaan untuk beton (DIN 1045), maka untuk penggunaan UHPC dalam konstruksi diperlukan ijin khusus untuk mengevaluasi kekuatan, keamanan dan durability UHPC. Team peneliti dari University of Kassel dibawah pimpinan Prof. Fehling dan Prof. Schmidt yang selama 10 tahun mengembangkan UHPC, dapat membuktikan dari hasil hasil penelitian mereka selama ini bahwa UHPC memenuhi syarat keamanan dan layak untuk dipakai pada jembatan ini.

Apakah Ultra High Performance Concrete ?

UHPC merupakan produk dari material konstruksi High Tech, yang memungkinkan dihasilkannya beton dengan kekuatan sangat tinggi, dimana kuat tekan beton menyamai kekuatan baja, yaitu dapat mencapai 200 – 250 N/mm² (MPa). Sebagai perbandingan di Indonesia kuat tekan beton yang dipakai sampai saat ini maksimum 70 N/mm², dan baja konstruksi mempunyai kekuatan 240 N/mm² . Adapun kata Ultra Performance lebih cocok digunakan daripada kata Ultra Strength, karena UHPC selain memberikan kekuatan jauh lebih tinggi daripada beton normal, ternyata memberikan performance yang jauh lebih baik seperti perlindungan terhadap bahaya korosi pada tulangan, ketahanan abrasi terhadap zat zat kimia yang berbahaya dan durability daripada beton normal.

Disebut High – Tech karena desain campuran UHPC adalah berbasis Teknologi Nano dimana harus diperhatikan penggunaan partikel partikel UHPC yang mempunyai ukuran dalam rentang ukuran nanometer disingkat nm (submikrokopis). Satu nanometer adalah sepermilliard meter. Melalui teknologi nano ini akan diperoleh material beton yang sangat padat, dimana pori pori dari beton lebih kecil daripada ukuran kapiler, yaitu berada dalam ukuran 0,002 µm atau sebesar 2 nm. Praktis akan diperoleh material dengan susunan struktur yang homogen.

Tingginya kekuatan beton yang dihasilkan dari suatu mix design UHPC dipengaruhi oleh beberapa hal pokok:
  • Rendahnya perbandingan air dan semen yang digunakan, yaitu lebih rendah dari 0,25.
  • Penggunaan semen dengan bahan tambahan dari kelompok bahan mineral seperti mikro silika.
  • Agregat halus : pasir dengan diameter 0,125 – 0,50 mm
  • Partikel sangat halus yaitu tepung quarz.
  • Superplastisizer.

Dalam campuran UHPC ditambahkan serat baja ataupun serat polypropylene agar UHPC dapat mencapai daktilitas yang cukup untuk mencegah terjadinya keruntuhan yang bersifat tiba tiba.

Karena kekuatannya sangat tinggi penggunaan UHPC memungkinkan dihasilkannya struktur beton yang ringan dan ramping, yang berarti dapat menghemat sumber daya alam dan enerji. Ringannya berat sendiri struktur memungkinkan dicapainya bentang struktur yang lebih lebar dan bertambahnya tingginya bangunan. UHPC merupakan beton yang sangat padat sehingga dapat melindungi tulangan baja terhadap bahaya korosi, sehingga menjamin durability struktur.

Jembatan Gartnerplatz

Jembatan Gärtnerplatz yang dibangun melintasi sungai Fulda di Kassel praktis adalah realisasi dari hasil penelitian UHPC di University of Kassel selama 10 tahun, yang menggunakan hasil pengembangan desain campuran UHPC dengan nama M1Q, M2Q. Bahan bahan material yang digunakan untuk campuran UHPC dapat diperoleh secara lokal. Desain campuran M1Q dan M2Q dibantu dengan curing pemanasan pada suhu 90° C selama 48 jam akan menghasilkan kuat tekan beton rata rata sebesar 195 N/mm².
gambar2
Gambar 2: Jembatan Gartnerplatz (Kassel – Jerman)

Jembatan sepanjang 132 m ini direncanakan untuk menggantikan jembatan kayu, tanpa harus mengganti pondasi dan pilar yang sudah ada. Untuk itu perlu desain struktur yang berat sendirinya tidak melebihi struktur jembatan kayu.

Struktur jembatan disebut sebagai konstruksi hybrid karena terdiri dari struktur baja dan struktur UHPC. Struktur baja terdiri dari rangka batang 3 dimensi berbentuk segitiga terbuat dari pipa baja, yang dengan high tension bolt dihubungkan pada 2 balok menerus paralel terbuat dari UHPC sebagai Upper Chord dari badan jembatan.
gambar3
Gambar 3: Tampak struktur jembatan dengan pipa baja sebagai struktur rangka dan dengan balok UHPC sebagai upper chord

Penampang balok UHPC ini sangat ramping berukuran 30 x 40 cm dengan panjang bentang segmen antara 12 m dan 36 m. Balok upper chord dibuat sebagai beton pracetak dilengkapi dengan kabel prategang unbonded St 1570/1770 . Keseluruhan enam segmen badan jembatan dibuat secara pre-pabrikasi untuk kemudian dikirim dan di montase di lokasi.
gbr 4
Gambar 4: Segmen rangka jembatan yang dikerjakan di workshop diangkut dengan trailer ke lokasi ( Sumber : Fehling)
Desain struktur jembatan adalah sebagai struktur menerus, antara segmen dihubungkan dengan menggunakan sistem sambungan penuh dengan High Tension Bolt.
gambar5
Gambar 5 : Tampak sambungan rekatan pelat lantai UHPC dengan balok upper chord UHPC dan detail pertemuan batang diagonal rangka baja dengan upper chord UHPC.

Diatas 2 balok paralel upper chord diletakkan pelat untuk lantai jembatan dengan lebar 5,0 m dan panjang segmen pelat 2,0 m. Pelat terbuat dari UHPC sebagai beton pracetak dengan sistem pretension. Tebal pelat lantai 12 cm pada bagian tengah dan 8 cm pada bagian tepi , sehingga dapat diperoleh kemiringan lantai yang diperlukan. Dengan perbandingan tebal pelat terhadap lebar jembatan sebesar 1/40 tergolong sebagai struktur pelat yang tipis. Untuk pemasangan pelat pracetak diatas upper chord tidaklah digunakan sambungan mekanis, tapi pelat ini direkatkan pada balok upperchord dengan mengunakan pasta epoxy (2-K-Epoxidharz Sikadur 30) .
image6
Gambar 6: Pekerjaan untuk merekatkan lantai Jembatan diatas upper chord, dengan menggunakan epoxy (Sumber : Fehling)

Setelah pemasangan pelat lantai selesai, maka kabel prategang yang terdapat pada kedua balok upper chord ditarik dan diangkur sebagai unbonded prategang. Melalui sambungan rekatan epoxy gaya prategang pada upper chord akan tersalurkan pada pelat lantai. Dengan demikian pada jembatan Gartnerplatz untuk pertama kalinya di dunia digunakan sistem rekatan dengan menggunakan epoxy untuk menyambung elemen2 struktur beton secara permanen.

Penggunaan UHPC dan baja yang bersama sama membentuk struktur hybrid, selain memberikan effek estetika sebagai jembatan pejalan kaki yang ringan dan ramping, juga membawa keuntungan ekonomis, bahwa strukur jembatan tersebu tidak memerlukan pondasi dan pilar baru.

Keberhasilan pembangunan jembatan Garnerplatzt memperlihatkan keberhasilan Link and Match antara industri dan universitas, dimana hasil hasil penelitian bertahun-tahun di universitas dapat diaplikasikan pada dunia industri. Atas kebrhasilan ini, pemerintah memberikan penghargaan ”Deutschland Land der Ideen 2007” yang merupakan penghargaan atas kreatifitas dan imajinasi bagi para peneliti dan profesional di University of Kassel.

Melalui kerja sama dengan Prof. Fehling dan Prof. Schmidt sebagai nara sumber, maka akan dilakukan juga penelitian dan pengembangan UHPC di Teknik Sipil UPH, dengan menggunakan material material lokal yang ada, agar UHPC dapat juga digunakan di Indonesia sebagai bahan konstruksi yang handal.

Penulis : Prof. Dr.-Ing. Harianto Hardjasaputra
Guru Besar Teknik Sipil Universitas Pelita Harapan

Sabtu, 30 April 2016

GARAM KUALITAS SATU DENGAN PENGGUNAAN GEOMEMBRANE

Membrane di bawah bulan purnama Kapat

1 October, 2012
Dahlan Iskan, Menteri BUMN

Jakarta - Bulan purnama lagi mejeng dengan sangat menornya di atas langit ladang penggaraman yang luas di selatan Sampang, Madura. Orang-orang Bali merayakannya sebagai purnama kapat dengan sembahyang di pura. Orang Tionghoa sedunia merayakannya sebagai zhong jiu yue dengan saling membagi kue bulan yang terkenal itu.
Tapi, di Madura, di ladang garam ini, para petani sedang meradang: harga garam mereka sedang jatuh-jatuhnya. “Di satu pihak harga garam turun drastis, di lain pihak ongkos angkutnya naik,” ujar Haji Ulum, seorang petani garam di situ. “Tahun ini kami seperti terpukul dari kanan dan kiri,” tambahnya.
Malam Minggu kemarin itu, di bawah sinar bulan purnama kapat yang menor itu, saya memang lagi weekend di Sampang. Kombinasi pancaran sinar bulan yang terang, dengan langit biru yang cerah dan hamparan luas putihnya garam yang mengkristal, membuat suasana malam itu seperti lagi di alam maya: tidak siang, tidak malam, tidak pagi, dan tidak senja.
Pencipta puisi seperti Taufiq Ismail pasti akan bisa menggambarkan kemayaan suasana malam itu, sebagus puisinya tentang padang savana Sumba yang dibacakan penyair Umbu Landu Paranggi itu!
Sayangnya kelompok-kelompok petani garam di Madura ini bukan seperti bait-bait puisi. Mereka justru seperti lagi kompak menyenandungkan tanya: mengapa di saat panen garam seperti ini impor garam terus terjadi!
Memang secara teori garam luar negeri itu hanya untuk industri. Tapi semua bersaksi bahwa garam impor itu juga masuk ke pasar konsumsi. Maka panen raya garam yang luar biasa tahun ini (berkat kemarau yang terik) yang semula menimbulkan harapan besar untuk penghasilan yang lebih, berakhir dengan hampa.
Tentu bukan berarti tidak ada hope. Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sudah memutuskan menghentikan kebijakan lama. Mulai tahun depan tugas mendatangkan garam untuk industri hanya bisa dilakukan oleh BUMN PT Garam (Persero). Dengan demikian bisa lebih terkontrol. Hanya saja memang harus menunggu tahun depan. Izin-izin lama impor garam itu baru berakhir pertengahan 2013.
Hope yang lain adalah ini: membranisasi ladang garam. Program yang saya promosikan tahun lalu itu, kini sudah mulai ada hasilnya. Saya sengaja ke Sampang malam itu memang khusus untuk melihat dan mengevaluasi percobaan penggunaan membrane tersebut. Saya ingin tahu keadaan yang sebenarnya. Yang tidak hanya berbentuk laporan di atas kertas.
Diam-diam dan agak mendadak saya meluncur ke Sampang. Kesimpulannya -meminjam istilah pelawak Tukul- ruaarrrr biasa!
PT Garam sudah mencoba geomembrane ini di tiga lokasi: Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Semuanya di Madura, Jawa Timur. Di Sampang, geomembrane dipasang di areal seluas 30 ha. “Hasilnya naik 40 persen,” ujar Yulian Lintang, Dirut PT Garam yang malam itu mendadak saya ajak ke Sampang.
Bukan hanya jumlah produksi yang meningkat tapi juga kualitas garamnya. Dengan geomembrane, tidak ada lagi garam kualitas dua atau kualitas tiga. Semuanya kualitas satu.
Bahkan dengan geomembrane ini, PT Garam sudah mulai bisa menghasilkan garam pada bulan Mei. Tanpa geomembrane, panen pertama baru terjadi di bulan Juli.
Geomembrane seperti lembaran plastik tipis yang sangat lebar, selebar petak-petak ladang garam. Ukurannya sekitar 30 x 60 meter.
Lembaran membrane tersebut dihampar di dasar ladang. Seperti tambak udang. Lalu air laut yang akan dijadikan garam dialirkan ke petak tersebut. Dalam waktu lima hari, kristal-kristal garamnya sudah mulai terlihat dan mulai mengendap.
Ini beda dengan cara tradisional yang dasar ladangnya adalah tanah. Dua bulan lamanya petani harus membuat dasaran ladang garam. Yakni dengan cara membiarkan dan meratakan garam-garam awal musim berkali-kali. Setelah itu barulah bisa membuat garam yang sebenarnya. Itu pun ketika panen masih saja ada yang tercampur dengan tanah. Inilah yang menyebabkan munculnya garam kualitas dua dan tiga.
Begitu PT Garam sudah bisa panen di bulan Mei, petani garam di sekitar lokasi tambak BUMN itu terperangah. Bagaimana mungkin di bulan Mei sudah bisa panen. Mereka pun berbondong-bondong melihat teknologi baru itu. Apalagi ketika mereka melihat seluruh garam di atas membrane itu berkualitas satu. Para petani pun terpana.
“Saya langsung mendaftar untuk mendapatkan geomembrane itu,” ujat Haji Taufik, seorang petani yang malam itu berbincang dengan saya.
“Mendaftar ke mana?” Tanya saya.
“Ke Dinas Perindusterian Sampang,” jawab Taufik.
“Memangnya akan ada pembagian geomembrane?” Tanya saya lagi.
“Saya dengar begitu. Tapi entahlah,” jawab Taufik.
Tidak hanya Taufik yang tergiur dengan teknologi geomembranenya BUMN. “Saya juga sudah mendaftar,” ujar Haji Wasil, 43 tahun, petani garam yang lulusan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
Bagaimana dengan Haji Ulum, 37 tahun, yang juga bertani garam di situ? “Saya pun sudah mendaftar,” katanya.
“Lho! Semuanya sudah mendaftar?” Tanya saya.
“Iya Pak. Total ada lima kelompok yang sudah mendaftar. Kira-kira 50 orang,” ujar Ulum yang mengaku hanya tamat Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), namun berkat ketekunannya bertani garam kini sudah memiliki sebuah Honda Jazz, satu pick-up, dan dua buah truk.
Melihat hasil penggunaan geomembrane yang begitu nyata, saya memutuskan agar PT Garam menggunakan geomembrane 100% tahun depan. Yulian, Dirut PT Garam yang asli Lintang, Lahat, Sumsel, dan baru menjabat Juli lalu, bertekad akan melaksanakan keputusan ini. Bukan saja untuk BUMN sendiri tapi juga untuk memberikan contoh kepeloporan bagi petani garam secara keseluruhan.
“Dari mana uangnya?” Tanya saya kepada Yulian Lintang.
“Bisa dari pinjaman bank Pak,” jawab Yulian.
“Bisa mengembalikan bunga dan pokoknya?” Tanya saya lagi.
“Dalam dua tahun pinjaman sudah bisa lunas. Asal musimnya sebagus tahun ini,” ia menjawab tegas.
Mendengar dialog tersebut para petani garam juga tersulut. Mereka bertekad akan menempuh cara yang sama. “Kalau memang tidak ada pembagian, saya juga mau lewat kredit,” ujar Haji Taufik, petani garam tamatan sekolah Pendidikan Guru Agama 6 Tahun yang sehari-hari naik Honda CRV. Taufik yang pernah diangkat menjadi guru agama tapi mengembalikan surat pengangkatannya itu memang petani garam yang cerdas.
Taufik tidak hanya berladang garam. Ia juga mendirikan pabrik garam. Dia beli garam-garam kualitas tiga dari para petani sekitar. Dia beli mesin pencuci garam seharga Rp 500 juta. Dia cuci garam tersebut sehingga bisa naik menjadi kualitas dua. Atau dia cuci garam kualitas dua untuk bisa menjadi kualitas satu.
Bahkan Taufik sebenarnya tidak ingin menunggu pembagian atau kredit. “Kalau saja harga garam tahun ini tidak jatuh, saya akan langsung membeli geomembrane,” ujarnya.
Haji Ulum juga punya pikiran yang sama. “Sayangnya harga garam tahun ini jatuh. Saya lagi mikir lagi bagaimana bisa mendapatkan geomembrane,” katanya.
Dengan geomembrane proses peningkatan suhu air laut memang bisa lebih cepat. Air laut yang disedot dan dimasukkan ke ladang garam suhunya hanya 3 derajat. Suhu itu harus terus dinaikkan. Caranya: air diputar-putar (dialirkan) dari satu petak ke petak lain sampai suhunya mencapai 20 derajat. Semua itu karena panas matahari.
Dalam proses pindah-memindah air laut inilah terjadi juga pengendapan unsur-unsur kimia seperti FE, CACO3, dan CA Sulfat. Zat-zat itu harus ditinggal agar mutu garam bisa lebih baik. Artinya dengan mengurangi zat-zat tersebut NACL dalam garam bisa sangat tinggi.
Setelah mencapai suhu 20 derajat itulah, air dimasukkan (dialirkan) ke petak/kolam terakhir. Hanya petak terakhir inilah yang perlu dilapisi geomembrane di dasarnya. Di petak terakhir ini air akan dibiarkan mencapai suhu 25 sampai 28 derajat. Inilah suhu yang bisa menghasilkan garam. Penggelaran geomembrane di dasarnya ikut membuat peningkatan suhu tersebut lebih cepat.
Dalam lima hari, air laut di atas membrane tersebut sudah berubah menjadi kristal-kristal garam. Saat inilah ditentukan apakah garam yang dihasilkan akan dibuat menjadi kristal-kristal kecil atau kristal-kristal besar. Sesuai dengan keinginan pasar.
Melihat tumpukan garam hasil dari ladang bergeomembrane ini rasanya seperti melihat mutiara-mutiara yang indah. Apalagi diterpa sinar bulan purnama yang sempurna.
Maka seandainya BUMN dan semua petani garam di Madura sudah menggunakan geomembrane, Madura saja akan mampu memproduksi 1,2 juta ton garam setahun. Tinggal kurang 200.000 ton lagi untuk bisa mencukupi kebutuhan garam konsumsi secara nasional. Kekurangan itu bisa diperoleh dari Cirebon, Indramayu, dan Medan. Ini kalau semua petani di tempat-tempat tersebut juga ketularan menggunakan geomembrane.
Kalau semua kebutuhan garam konsumsi sudah bisa dipenuhi, tinggal kita memikirkan kebutuhan garam untuk industri. Sayangnya kebutuhan garam untuk industri ini jauh lebih besar dari kebutuhan garam untuk konsumsi: 1,8 juta ton. Inilah yang masih harus diimpor.
Sampai kapan?
Harapan satu-satunya adalah NTT. Ada 5.000 ha lahan yang bisa dipergunakan untuk ladang garam di Kabupaten Kupang. Hampir sama dengan luasan seluruh ladang garam Madura. PT Garam sudah siap ekspansi ke sana. Namun lahan tersebut masih harus diselesaikan.
Menyelesaikannya pun mungkin tidak mudah. Ini karena pemerintah sudah terlanjur memberikan izin Hak Guna Usaha (HGU) kepada sebuah perusahaan dari Jakarta. Perusahaan ini ingin membuat ladang garam raksasa dengan cara modern.
HGU itu sudah diberikan sejak 27 tahun yang lalu. Tapi sampai 27 tahun kemudian, hari ini, lahan itu masih tetap sama seperti 27 tahun yang lalu.
Garam rasanya memang asin. Tapi kalau jumlahnya sudah mencapai 3,2 juta ton, manisnya bukan main.
(*) Menteri BUMN
(AntaraNEws, Setper-1/10)
Sumber 

Sabtu, 23 April 2016

Material Geosintetik


Apakah Geosintetik? mungkin kata - kata ini cukup familiar dan sering terdengar saat kita mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan timbunan, jalan, reklamasi pantai dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan tanah (Geo)
mengapa saya posting mengenai geosintetik ? karena... ternyata... geosintetik dapat membantu kita dalam banyak aplikasi seperti...????
1. Mengurangi kebutuhan timbunan
2. Perkuatan tanah
3. Memisahkan material tanah asli dengan tanah timbunan
4. Melindungi material dari terjadinya abrasi
5. Melindungi tanah dari zat beracun, minyak dll
6. Mengganti material yang susah didapatkan
7. Menghindari terjadinya kembang-susut yang besar pada tanah kembang-susut
8. Menjaga agar material timbunan tidak hilang di daerah gambut
9. mencegah dan memperkuat timbunan pada jalan

Apa saja jenis geosintetik?
Geosintetik sendiri mulai dibuat dan mulai dikenal sejak tahun 1970, dan saat ini sudah berkembang pesat dan mampu mengurangi biaya pembangunan menjadi jauh lebih murah.
Geosintetik yang saat ini saya kenal ada beberapa yaitu :

1. Geotextile


2. Geogrid

3. Geomembrane

4. Geonet

5. PVD

6. PHD

7. Geopipe

dan masih banyak lagi dan masih berkembang menyesuaikan kebutuhan konsumen, bahkan ada yang dimodifikasi seperti HDPE Gabion yang terbuat dari Geogrid dibentuk seperti keranjang sebagai pengganti bronjong, tahan karat dan awet